Cara Termudah Install Windows ke Netbook

Maret 7, 2009

Setelah kapan hari memposting tentang cara menginstall windows ke netbook anda, ternyata masih banyak yang mengalami kegagalan selama proses ini. Entah itu minta password, gak tahu prosedurnya, dan problem lainnya.

Nah, kali ini saya akan membagikan tips termudah untuk menginstall OS pada netbook. Bukan dengan flashdisk, tapi dengan CD/DVD.

Oke, ada dua benda yang harus anda siapkan. Pertama: sebuah drive CD atau DVD (kalau tidak punya saya sarankan untuk pinjam ke teman saja). Kedua: kabel dengan slot IDE to USB.

lpo

Caranya sangat mudah:
1. Beli kabel IDE to USB. Saya beli di THR (high tech mall) surabaya dengan harga hanya 70 ribu. Dalam pembelian ini anda akan mendapatkan sebuat kabel dengan dua ujung, ujung pertama adalah USB dan ujung kedua adalah IDE. Anda juga akan mendapatkan sebuah adaptor untuk power suply.

2. Pasang bagian slot IDE ke drive CD/DVD anda (drive untuk PC, bukan untuk laptop). Dan pasang pula adaptop ke drive ini.

3. Hubungkan power supply dengan jala-jala listrik (colokan PLN itu loh bos..) dan slot USB ke netbook anda.

4. Buka drive CD atau DVD itu tadi dengan memencet tombolnya (halah gak penting). masukkan CD atau DVD installer OS yang anda inginkan.

5. Nyalakan netbook anda, atur agar dia boot ke CD (biasanya secara default setting ini tidak diperlukan, tapi ada juga yang harus menyeting arah boot terlebih dahulu)

6. Install OS..

7. Tunggu sampai selesai sambil tiduran atau apa gitu kek

Nah,, gimana triknya?? yang ini jauh lebih mudah dari pada harus pakai flashdisk kan?? kalau gak punya kabel USB to IDE tadi gimana?? yang beli donk.. atau pinjem ke teman.

Semoga bermanfaat.

Waspadalah : “53CUR17Y.15.53R10U5” !

Februari 21, 2009

mm

Security is Serious”… Seberapa seurieus Anda memperhatikan pengamanan kata sandi saat Anda beraktivitas dunia maya? Tak seorang pun mau apabila data privat miliknya dilongok oleh orang yang tidak berkepentingan, bahkan saat sekadar akses bermain-main pada situs yang tengah luar biasa populer yakni aktivitas jejaring pertemanan on-line : Facebook.
Apabila Anda memilih kata sandi gampangan layaknya “generic” :
12345678 -dan/atau- 1234
maka pilihan kata demikian memang menjadi sedemikian gampang diingat namun tentunya akan amat mudah ditebak cukup dengan upaya coba-coba tanpa perlu keluar keringat sedikit pun dengan menggunakan aplikasi pembobol kata sandi semisal aplikasi “brute-password-attackers”.
Dan nyatanya pemilihan kata sandi dengan pengamanan yang sedemikian lemah seperti dicontohkan di atas digunakan oleh pengguna Internet sejumlah : 14%.
Sedangkan Kata sandi : qwerty —yakni deretan huruf teratas pada papan ketik komputer— yang juga gampang dicoba tebak ternyata digunakan : 4% peselancar Internet.

Demikian Kajian yang terungkap hasil dari penelitian Errata Security di AS yang dipublikasikan dalam Information Week terbitan 11Feb yl. Kajian mana lebih lanjut melaporkan bahwa 16% dari 28.000 kata sandi yang terkena kasus pembobolan identitas diketahui kebanyakan korban menggunakan pola pilihan kata-kata yang cukup mudah ditebak, semisal :
“Nama depan pengguna” —dan/atau— “nama depan anak”.
“password” —atau kombinasi yang lemah— “password1”.
Walau sudah cukup sering diwanti-wantikan ahli penasehat keamanan Internet serta kalangan penyedia layanan e-mail dll, pilihan kata dengan nama depan sendiri atau pun nama anak memang meluas dalam pemakaiannya dan serta merta akan menjadi target yang empuk bagi kalangan kriminal pencuri identitas aktivitas Internet.
Pengamanan kata kunci bahkan menjadi lebih bernilai vital lagi untuk aktivitas pengiriman surat elektronik serta transaksi on-line dengan bank atau pun toko cyber semisal amazon-dot-com.
Lantas pengamanan kata sandi yang selayaknya dilaksanakan menurut arahan Robert Graham spesialis keamanan Errata Security, yakni:
Pilih lah kata sandi yang terdiri atas minimal 8 (delapan) huruf.
Dan hendaknya pilihan kata sandi dengan menyertakan setidaknya kombinasi 1(satu) huruf besar dan 1(satu) karakter simbol !

Mungkin agak berlebihan dan terbilang ribet bagi khalayak pengguna Internet untuk dapat mengikuti saran, bahwa agar demi pengamanan password hendaknya secara rutin diganti setiap bulan atau periode tertentu. Namun agaknya lebih dapat dimengerti khalayak kebanyakan apabila kalangan pengamanan IT mengajukan tips agar dalam beraktivitas jejaring sosial on-line : Facebook, Multiply, Hi5, dll yang kini popularitasnya merebak luas agar pengguna Internet supaya tidak terlena untuk dengan sembarangan ikut menjadi pengguna fitur aplikasi tambahan yang banyak tersedia di situs jejaring sosial kontemporer masa kini. Apabila seseorang dengan gampangan ikut menjadi anggota pengguna aplikasi berarti setiap anggota dalam group yang diikutinya akan dapat mengakses data pribadi setiap anggota. Hendaknya disadari bahwa aplikasi tambahan dari pihak luar sesungguhnya juga rawan terhadap pencurian data pribadi oleh penjahat kriminal yang mengintai setiap waktu pada setiap celah kesempatan.
Barangkali pantas diingatkan bahwa betapa kejadian tragis serangan terorisme 911 di NYC, AS pada tahun 2001 yang silam menyisakan sekelumit kisah dibalik berita yang sungguh menarik berkenaan dengan penelusuran password milik para korban yang tewas. Ternyata pada kesempatan pasca kejadian 911 sekelompok rekan para korban tewas yang berkesempatan berkumpul intens untuk kemudian dilibatkan dalam suatu riset kecil-kecilan berbasis jejaring sosial yang diarahkan guna coba mengungkap kata sandi yang digunakan para korban yang tewas dalam beraktivitas Internet. Dan hasilnya cukup mengejutkan bahwa ternyata kata sandi dari sejumlah korban dapat terbongkar dengan tebakan relatif sederhana berdasar penelusuran dari rangkuman pernyataan atas sejumlah cirian kebiasaan ataupun kesukaan milik para korban yang dikumpulkan dari para rekan-rekan kerja terdekat serta sahabat yang lolos selamat dari peristiwa 911.
“53CUR17Y.15.53R10U5” : Waspadalah !

“UHPFRC” : beton berdaya tahan tinggi terhadap bom aksi terorisme.

Februari 21, 2009

lll

Tragedi 911 yang meruntuhkan pencakar langit WTC yang menjadi salah satu simbol kota meteropolitan NYc hingga rata dengan muka bumi tanpa diragukan siapa pun menimbulkan dampak tersendiri bagi dunia perancangan bangunan dalam rupa desain yang berawal dari meja gambar arsitek hingga pada dunia kontruksi sebagai bidang akhir guna merealisasikan bangunan bertingkat tinggi hingga menjulang menembus ketinggian cakrawala. Salah satu diantara bidang keilmuan yang menjadi terggugah yakni upaya penelitian guna menghasilkan material bangunan yang lebih tahan berlipat ganda terhadap ledakan bom dari ulah terorisme. “UHPFRC” : Ultra High Performance Fiber Reinforced Concrete adalah salah satu karya temuan kelompok peneliti Universitas Liverpool pimpinan Professor Steve Millard yang diketengahkan guna mendapatkan jenis material beton yang akan lebih mampu menahan daya impak ledakan bom. Suatu bangunan dengan berbahan material beton jenis baru ini pun diperkirakan dapat lebih terhindarkan dari keruntuhan bangunan dengan seketika runtuh total seperti yang sekarang sering terjadi pada banyak bangunan korban aksi pemboman terorisme global. Dalam hal mana sering kali berakibat tertimbunnya korban dibawah puing-puing bangunan menyebabkan banyaknya hilang nyawa para korban berhubung sedemikian kecilnya peluang lolos dari kesempatan diselamatkan regu penolong berhubung formasi reruntuhan yang berujud luluh lantak demikian. Beton UHPFRC memiliki karakteristik istimewa yakni dalam ketahanan tekuk dinamis : “dynamic bending capabilities” yang berarti material hanya akan lebih sedikit / kecil dalam melontarkan pecahan-pecahan seukuran kerikil —istilahnya “shrapnel”— sebagai impak daya ledakan bom eksplosifitas tinggi pada lempengan beton yang lazimnya berkarakteristik solid namun sekaligus getas. Dalam rekayasa beton UHPFRC disisipkan penambahan ekstra jalinan tipis berlapis “needle-thin steel fibers” sebagai ganti upaya yang biasa dilakukan yakni dengan memperkuat konfigurasi lembaran baja tulangan beton semata-mata. Prof. Steve Millard berujar meyakinkan, bahwa kelompok penelitiannya telah melaksanakan serangkaian uji test bom ledakan berulang kali guna memperbaiki kekuatan beton rekayasanya dalam segi kekuatan tekuk dinamis beton dan peningkatan kapasitas menyerap energi eksplosif daya ledak bom. Catatan hasil eksperimen UHPFRC mampu meningkatkan kekuatan tekan dan tarik hingga 500% lebih kuat dari pada beton konvensional. Sedangkan untuk karakteristik material dalam meyerap energi daya impak ledakan bom kemampuan penyerapan meningkat hingga: 1000 kali lipat dibanding beton standard. Prof. Millard lebih lanjut mengimbuhkan, bahwa kini banyak landmark pusat parawisata kota di London yang diberi perlindungan susunan beton guna mengantisipasi bahaya aksi bom teroris, namun material beton pengaman ekstra ini tidak terbuat dengan komposisi tepat yang berfungsi sesuai untuk menyerap energi ledakan guna menghindari terjadinya dampak paling fatal dari suatu ledakan bom yakni lontaran “shrapnel” yang sungguh-sungguh berujung akhir yang mematikan para korban dalam gedung yang runtuh total. Hingga saat ini walau riset Prof. Millard dkk dilaksanakan di Negeri Inggris namun penerapan pertama kali secara resmi dengan memuaskan justru diselesaikan dalam pembangunan struktur kontruksi atap suatu bangunan di Negeri Australia. Dalam rencana berikutnya beton UHPFRC dalam rencana akan segera diterapkan pada sejumlah bangunan proyek Pemerintah di Inggris.

bom

Komunkasi e-mail berpotensi rawan untuk pembohongan info.

Februari 21, 2009

ssss

Penggunaan e-mail untuk keperluan komunikasi pribadi ke pribadi dipastikan akan semakin turun frekwensi pemakaiannya sejalan dengan booming Facebook sebagai sarana jejaring sosial yang menyuguhkan berbagai fitur yang beragam serta menarik dengan segala layanan yang tersedia cukup dalam satu wadah : situs Facebook. Segala urusan dari yang remeh-temeh sampai urusan bekerja mengandalkan net-working yang lebih seurieus berjalan dalam halaman Facebook.
Tidak mengherankan bahwa akses ke situs penyedia e-mail semakin kini semakin berkurang dan sebaliknya situs jejaring sosial seperti situs Facebook & Friendster ataupun micro-blogging Twitter semakin menjadi-jadi mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Berdasarkan peringkat alexa-com : Situs no-1 terbanyak di akses untuk Indonesia saat ini : yahoo.com namun situs jejaring Friendster serta Facebook tumbuh tinggi masing-masing berada pada posisi 3 & 5 besar. Data pendukung gambaran kecenderungan di atas dapat pula dikaji dari situs : OperaMini.com -dan- InsideFacebook.com
Gmail atau Ymail paling tidak akan tetap diperlukan sejurus waktu seseorang melakukan pendaftaran pertama ke situs Facebook dan setelahnya cukup kadang-kadang saja melongoknya.

E-mail yang akan masih berjalan sebagaimana layaknya penggunaan sehari-hari sebelumnya yakni terutama untuk menjalin komunikasi resmi pada instansi Pemerintah & korporasi perkantoran.
Namun pantas disimak hasil riset Liuba Belkin dkk dari Universitas Lehigh University yang berjudul “Being Honest Online: The Finer Points of Lying in Online Ultimatum Bargaining”, yang isinya memuat bahwa para pekerja kantoran rawan untuk melakukan kebohongan informasi dalam berkomunikasi melakukan e-mail. Riset menunjukkan bahwa pembohongan lewat media on-line ini bahkan berdasar hitungan frekwensinya malahan lebih sering jika dibandingkan dengan cara berkomunikasi konvensional / tulisan tangan : “pen-and-paper”. Dan temuan yang lebih mengejutkan lagi bahwa orang bahkan ternyata merasa berkenan apabila berbohong dalam menggunakan e-mail.
Hasil satu penelitian di AS jelang akhir tahun yl, para peneliti memberikan kepada responden yakni 48 mahasiswa full time MBA wang pemberian sebanyak $ 89 untuk membagikannya kepada dirinya sendiri serta untuk menyisihkan sebagain kepada pihak lain yang sesungguhnya fiksi belaka.atau sesungguhnya tiada. Jumlah wang pemberian yang diberikan termaksud tidak diinformasikan dengan tepat jumlahnya namun hanya diberitahu berjumlah antara $ 5 hingga $ 100. Dengan satu pra-kondisi yang berlaku : pihak responden harus menerima berapa pun yang telah diberikan kepadanya.
Dengan cara menggunakan e-mail atau pun komunikasi cara manual tulisan tangan, setiap mahasiswa berstatus MBA tersebut ditugaskan melaporkan besarnya wang pemberian dan berapa banyak yang akan disisihkan —entah benar atau pun tidak— bagi pihak lain yang karangan semata.
Hasil kajian riset mengungkapkan 92% lebih dari mahasiswa yang berkomunikasi menggunakan e-mail berbohong mengenai jumlah uang yang akan disisihkan bagi pihak lain, sementara kondisi kebohongan yang serupa dinyatakan dari sekitar hampir 64% mahasiswa yang berkomunikasi dengan cara penyampaian tulisan: “pen-and-paper”. Tingkat kebohongan yang berarti hampir 50% lebih besar diantara kedua kelompok.
Kelompok “e-mailer” menyatakan pula mereka merasa lebih berkenan dalam pemberian bagi pihak lainnya hanya sejumlah $ 29 dari total sekitar $ 56. Kelompok “pen-and-paper” agak bersahabat dengan menyisihkan hingga sejumlah $ 34 dari total pemberian sekitar $ 67.
Charles Naquin dari DePaul University selaku salah satu kelomok Peneliti mengingatkan bahwa kedua kelompok —e-mail dan “pen-and-paper”— pada dasarnya menggunakan media yang sama : teks. Dan sama-sama tidak memiliki bawaan communication bandwith lainnya.

Guna lebih memantapkan hasil riset kemudian para Peneliti melakukan riset kedua yang kali ini diberlakukan terhadap 69 mahasiswa MBA yang terdiri atas satu kelompok yang telah cukup saling mengenal satu sama lain. Riset lanjutan mana dilandasi pemikiran apakah situasi saling mengenal akan menyebabkan orang saling enggan berbohong. Namun ternyata para responden penelitian tetap berlaku yang sama : berbohong, dengan angka persentase kebohongan yang hanya agak sedikit berkurang.
Belkin yang bekerjasama riset dengan Terri Kurtzberg dari Rutgers University dan Charles Naquin dari DePaul University meyakinkan, bahwa hasil yang didapat adalah konsistens dengan riset serupa perihal penggunaan e-mail yang mengungkapkan komunikasi e-mail ternyata memliki adanya sisi negatif, yakni dapat menjadikan berkurangnya kepercayaan : “trust” maupun tingkatan kerjasama yang lazim melekat dalam bekerja profesional di perkantoran.
Namun pada akhirnya Belkin mengimbuhkan betapa komunikasi e-mail yang mulai meluas penggunaannya untuk komunikasi resmi institusi/perkantoran sejak tahun 1994 hingga saat ini masih memiliki sisi-sisi menarik untuk kajian riset industrial psychology seperti yang ditekuninya selama 5 tahun belakangan.

Biodata

Februari 21, 2009

NAMA: MOCHAMMAD BHIROWO

KELAS: XII IB

kilo

Hello world!

Februari 21, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.