
Penggunaan e-mail untuk keperluan komunikasi pribadi ke pribadi dipastikan akan semakin turun frekwensi pemakaiannya sejalan dengan booming Facebook sebagai sarana jejaring sosial yang menyuguhkan berbagai fitur yang beragam serta menarik dengan segala layanan yang tersedia cukup dalam satu wadah : situs Facebook. Segala urusan dari yang remeh-temeh sampai urusan bekerja mengandalkan net-working yang lebih seurieus berjalan dalam halaman Facebook.
Tidak mengherankan bahwa akses ke situs penyedia e-mail semakin kini semakin berkurang dan sebaliknya situs jejaring sosial seperti situs Facebook & Friendster ataupun micro-blogging Twitter semakin menjadi-jadi mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Berdasarkan peringkat alexa-com : Situs no-1 terbanyak di akses untuk Indonesia saat ini : yahoo.com namun situs jejaring Friendster serta Facebook tumbuh tinggi masing-masing berada pada posisi 3 & 5 besar. Data pendukung gambaran kecenderungan di atas dapat pula dikaji dari situs : OperaMini.com -dan- InsideFacebook.com
Gmail atau Ymail paling tidak akan tetap diperlukan sejurus waktu seseorang melakukan pendaftaran pertama ke situs Facebook dan setelahnya cukup kadang-kadang saja melongoknya.
E-mail yang akan masih berjalan sebagaimana layaknya penggunaan sehari-hari sebelumnya yakni terutama untuk menjalin komunikasi resmi pada instansi Pemerintah & korporasi perkantoran.
Namun pantas disimak hasil riset Liuba Belkin dkk dari Universitas Lehigh University yang berjudul “Being Honest Online: The Finer Points of Lying in Online Ultimatum Bargaining”, yang isinya memuat bahwa para pekerja kantoran rawan untuk melakukan kebohongan informasi dalam berkomunikasi melakukan e-mail. Riset menunjukkan bahwa pembohongan lewat media on-line ini bahkan berdasar hitungan frekwensinya malahan lebih sering jika dibandingkan dengan cara berkomunikasi konvensional / tulisan tangan : “pen-and-paper”. Dan temuan yang lebih mengejutkan lagi bahwa orang bahkan ternyata merasa berkenan apabila berbohong dalam menggunakan e-mail.
Hasil satu penelitian di AS jelang akhir tahun yl, para peneliti memberikan kepada responden yakni 48 mahasiswa full time MBA wang pemberian sebanyak $ 89 untuk membagikannya kepada dirinya sendiri serta untuk menyisihkan sebagain kepada pihak lain yang sesungguhnya fiksi belaka.atau sesungguhnya tiada. Jumlah wang pemberian yang diberikan termaksud tidak diinformasikan dengan tepat jumlahnya namun hanya diberitahu berjumlah antara $ 5 hingga $ 100. Dengan satu pra-kondisi yang berlaku : pihak responden harus menerima berapa pun yang telah diberikan kepadanya.
Dengan cara menggunakan e-mail atau pun komunikasi cara manual tulisan tangan, setiap mahasiswa berstatus MBA tersebut ditugaskan melaporkan besarnya wang pemberian dan berapa banyak yang akan disisihkan —entah benar atau pun tidak— bagi pihak lain yang karangan semata.
Hasil kajian riset mengungkapkan 92% lebih dari mahasiswa yang berkomunikasi menggunakan e-mail berbohong mengenai jumlah uang yang akan disisihkan bagi pihak lain, sementara kondisi kebohongan yang serupa dinyatakan dari sekitar hampir 64% mahasiswa yang berkomunikasi dengan cara penyampaian tulisan: “pen-and-paper”. Tingkat kebohongan yang berarti hampir 50% lebih besar diantara kedua kelompok.
Kelompok “e-mailer” menyatakan pula mereka merasa lebih berkenan dalam pemberian bagi pihak lainnya hanya sejumlah $ 29 dari total sekitar $ 56. Kelompok “pen-and-paper” agak bersahabat dengan menyisihkan hingga sejumlah $ 34 dari total pemberian sekitar $ 67.
Charles Naquin dari DePaul University selaku salah satu kelomok Peneliti mengingatkan bahwa kedua kelompok —e-mail dan “pen-and-paper”— pada dasarnya menggunakan media yang sama : teks. Dan sama-sama tidak memiliki bawaan communication bandwith lainnya.
Guna lebih memantapkan hasil riset kemudian para Peneliti melakukan riset kedua yang kali ini diberlakukan terhadap 69 mahasiswa MBA yang terdiri atas satu kelompok yang telah cukup saling mengenal satu sama lain. Riset lanjutan mana dilandasi pemikiran apakah situasi saling mengenal akan menyebabkan orang saling enggan berbohong. Namun ternyata para responden penelitian tetap berlaku yang sama : berbohong, dengan angka persentase kebohongan yang hanya agak sedikit berkurang.
Belkin yang bekerjasama riset dengan Terri Kurtzberg dari Rutgers University dan Charles Naquin dari DePaul University meyakinkan, bahwa hasil yang didapat adalah konsistens dengan riset serupa perihal penggunaan e-mail yang mengungkapkan komunikasi e-mail ternyata memliki adanya sisi negatif, yakni dapat menjadikan berkurangnya kepercayaan : “trust” maupun tingkatan kerjasama yang lazim melekat dalam bekerja profesional di perkantoran.
Namun pada akhirnya Belkin mengimbuhkan betapa komunikasi e-mail yang mulai meluas penggunaannya untuk komunikasi resmi institusi/perkantoran sejak tahun 1994 hingga saat ini masih memiliki sisi-sisi menarik untuk kajian riset industrial psychology seperti yang ditekuninya selama 5 tahun belakangan.